Refleksi Marketing Politic dalam Politik Lokal di Indonesia

Pada tulisan kali ini saya sebagai mahasiswa yang sedang menjalani studi jurusan Ilmu Pemerintahan dan sedang mengambil mata kuliah Pemasaran Politik mencoba untuk merefleksikan bagaimana keberlangsung marketing politik dalam politik lokal di Indonesia. Marketing Politic memang masih terbilang sebuah barang baru dalam dunia perpolitikan Indonesia. Sejak era reformasi dan pemilihan pemimpin politik dipilih secara langsung mulai dari tingkatan pusat sampai ke daerah marketing politik mulai dilakukan untuk memasarkan produk politiknya tentunya.

 

Marketing Politik dilakukan untuk mempengaruhi pemilih dalam menjatuhkan pilihan baik itu partai ataupun kandidat yang bertarung dalam sebuah pemilihan umum. Praktek marketing politik saat ini tidak hanya berjalan di tingkatan pusat, pada tingkat lokal pun kini telah berjalan. Bagi tiap-tiap kandidat yang ingin maju mencalonkan diri pada pemilihan umum di tingkatan daerah, mereka pun saat ini melakukan praktek pemasaran politik untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas. Maka tidak heran jika menjelang Pilkada ada banyak spanduk-spanduk bakal calon yang terpasang dipinggir jalan. Hal yang dilakukan tersebut merupakan bagian dari marketing politik yang dilakukan oleh bakal calon. Kandididat yang memasang spanduk atau baliho yang paling banyak di tiap sudut jalan tentu saja kandidat tersebut akan lebih banyak dikenal oleh pemilih.

 

Di era digitalisasi ini, saya kira dalam praktek marketing politik harus memperhatikan dunia digital. Terlebih lagi, saat ini mayoritas masyarakat telah menggunakan smartphone dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut tentu membuka jalan bagi kandidat untuk melakukan pemasaran politik melalui ruang-ruang digital yang ada seperti melalui facebook, Instagram, youtube, line, whatsapp dan social media lainnya. Memasarkan politik melalui online jauh lebih efektif ketimbang melalui cara konvensional. Apalagi untuk melakukan negative campaign yang bertujuan untuk menyerang dan menjatuhkan lawan lebih mudah dan masif apabila dilakukan lewat sosial media. Maka dari itu, menguasai teknologi dan mengikuti kemajuan dunia digital sangat diperlukan dalam hal pemasaran politik.

 

 

 

 

SATRIA DARI KOTA PATRIOT

DCIM102MEDIA


Hello, folks !

Kata orang tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, tak cinta maka tak jadian, meskipun jadian ya palingan putus. Hehehe

So, izinkan gue untuk memperkenalkan diri dan sedikit berceloteh di postingan perdana gue kali ini.

Bro n’ Sis, nama gue Satria. Lebih lengkapnya kalau sesuai Akte Kelahiran, Kartu Keluarga, KTP, KTM hingga kartu Indonesia Sehat, tercantum nama gue Satria Ramadhan.

Gue besar dan tumbuh berkembang di Kota Bekasi. Dari mulai PAUD sampai SMA gue mengenyam Pendidikan di Kota Patriot yaitu Bekasi.

Meskipun banyak orang yang menyebut Bekasi itu “Planet”, tapi gue bangga dengan Kota Bekasi yang punya Stadion megah dan bagi gue Bekasi itu keren.

Gak percaya bekasi itu keren? ini dia sedikit penampakan dari sekian banyaknya kekecean Kota Bekasi.

30ed630d719bbfa0139e921cc764a69d
Sumber : https://www.instagram.com/p/BOrMtBQDbS4/?hl=en&taken-by=explore_bekasi

Setelah lulus dari SMAN 2 Kota Bekasi di tahun 2014, gue merantau ke tanah jawara untuk melanjutkan studi gue.

Saat ini gue merupakan mahasiswa semester 7 dan sedang berjuang untuk meraih gelar sarjana di Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNTIRTA.

Ketika masih di semester 2, gue menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan dan dapat dikatakan sebagai ketua HIMA termuda di UNTIRTA. Pada tahun 2016 gue mengikuti Pemilihan Umum Mahasiswa Raya (PEMIRA) dan terpilih kembali sebagai Ketua HIMA.

Dalam politik kampus, gue sukses menjabat 2 periode berturut-turut sebagai Ketua Himpunan. Namun dalam percintaan, hubungan gue kandas setelah 3 tahun menjalin hubungan. 😦

Ketertarikan gue terhadap design grafis membuat gue seringkali membuatkan design-design untuk kebutuhan organisasi. Logo HIMA IP Untirta pun dibuat sendiri oleh gue. Bahkan design cover Journal of Governance juga merupakan hasil karya gue pribadi.

Gue juga tertarik dengan penelitian kualitatif. Saat momentum PILKADA DKI JAKARTA 2017, gue melakukan penelitian kualitatif terkait hate speech untuk memenuhi tugas mata kuliah Komunikasi Politik dengan dosen pengampu Yearry Panji S, P.hD.

IMG-20170524-WA0014
Saat melakukan penelitian mata kuliah Komunikasi Politik dosen pengampu Yearry Panji S, Ph.D dengan judul “Realitas Fenomena Pemasangan Spanduk Bernadakan Provokatif Sebagai Media Kampanye Politik Dalam Pilkada DKI Jakarta”

Di awal tahun 2017 gue mendapat kesempatan untuk melakukan internship program di Komisi II DPR RI. Momen yang berharga bagi gue bisa merasakan bagaimana kehidupan di dunia parlemen Indonesia.

Setelah nanti gue berhasil menyelesaikan studi di tanah Jawara ini. Besar keingin gue untuk kembali ke Kota Patriot untuk mengabdikan diri membangun Kota Bekasi tercinta.

“And Someday, I want to become a Mayor of Bekasi City”

Demikian celotehan gue kali ini.

See you, folks!

Processed with VSCO with s2 preset